Abdullah Khusairi, Mantan Wartawan Padang Ekspres Raih Gelar Doktor

16 July 2019 13:29 WIB Dibaca 373 kali

Kaji Wacana Radikalisme di Media, Lulus Cum Laude

Inilah perjalanan seseorang yang dikenal gigih dan tiada pernah berhenti belajar. Sekalipun sudah memasuki dunia kerja, dia tetap belajar dan belajar: membaca dan membaca, menulis dan menulis. Dua hal yang selalu ia tekuni sepanjang hidupnya. 

Selamat kepada Dr Abdullah Khusairi MA yang sudah menjalani ujian promosi dengan khidmat di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Senin (15/7). Sebuah capaian hebat oleh seorang mantan reporter, begitu saya pertama mengenalnya. 

Si Dul—demikian kami menyapanya dengan akrab di ruang redaksi Padang Ekspres ketika itu—berhasil mempertahankan karya akhir berjudul ”Diskursus Islam Kontemporer di Media Cetak: Kajian terhadap Radikalisme dalam Artikel Populer Surat Kabar Harian Kompas dan Republika 2013-2017”, di hadapan para para profesor penguji. 

Ada enam orang profesor penguji yang mengantarkan mantan reporter ini menjadi doktor, yaitu Prof Dr Jamhari MA; Prof Dr Komaruddin Hidayat (Promotor I); Prof Dr Andi Faisal Bakti MA (Promotor II); Prof Dr Azyumardi Azra MA; Prof Dr Amsal Bakhtiar MA dan Prof Dr Iik Arifin Mansurnoor MA.

Dalam karirnya sebagai jurnalis, Abdullah Khusairi pernah menduduki posisi strategis di Padang Ekspres Group, yakni menjadi Redaktur Pelaksana Edisi Minggu Padang Ekspres, Manager Program dan Produksi Padang TV, Pemimpin Redaksi Padang Today, dan Wakil Pemimpin Redaksi Posmetro Padang. Ia begitu lancar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan para profesor penguji. 

Mengikuti ujian promosi doktor kali ini amat berbeda terasa dengan beberapa yang pernah diikuti sebelumnya. Kali ini, seorang doktor yang dikenal sebagai wartawan sejak tahun 2000-2010. Waktu itu, ia seorang pemuda yang baru tamat kuliah, lalu melamar ke Harian Pagi Padang Ekspres. Ia langsung menjadi tim kerja saya yang andal bersama yang lain. Sebagai Koordinator Liputan (Korlip) pada masa itu, saya menjadi atasannya, yang terlibat langsung dalam kerja jurnalistik sehari-hari. Ia cakap di dunia jurnalistik baik secara teoritis maupun secara praktis. 

Secara teoritis, dia diasuh kolega saya Dr Mafri Amir MAg. Seorang dosen yang juga wartawan Semangat (Padang) di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Imam Bonjol Padang. Di situlah tahun-tahun pertama sang doktor kita ini belajar jurnalistik dengan Mafri Amir, Yulizal Yunus dan Sheiful Yazan. Mafri Amir kini sudah pindah pula ke UIN Ciputat, lalu mendapat tugas khusus di Setwapres RI. 

Perjalanan kerja di dunia jurnalistik bersama Abdullah Khusairi, menoreh begitu banyak perdebatan-perdebatan demi kualitas jurnalistik yang kami produksi dari ruang redaksi. Itulah hari-hari kami lalui bekerja sebagai orang media sepanjang tahun 2000-2010. Semua itu sudah menjadi kenangan yang indah, setelah kami sama-sama memilih jalan baru yang lebih menantang. 

Episode di Harian Pagi Padang Ekspres berakhir dengan memilih kembali ke kampus. Jadi dosen, seperti mengikuti jejak profesor pengujinya, Prof Dr Komaruddin Hidayat dan Prof Dr Azyumardi Azra MA CBE yang pernah jadi wartawan di Panjimas dan juga gurunya Dr Mafri Amir MAg (Harian Semangat). Kemarin, melihat ia tegak berdiri menghadapi enam profesor dan hadirin yang hadir, saya ikut bangga dengan capaiannya. Capaian yang sungguh indah bagi seorang yang selalu belajar dan rendah hati dalam bekerja. 

Catatan penting bagi para wartawan, pun bagi siapa saja; memang tak boleh berhenti belajar baik secara formal maupun informal. Secara informal, hari-hari kita mesti disadari sebagai hari-hari yang penuh belajar. Akan halnya Abdullah Khusairi, selain menulis berita, juga menulis sastra. Selain membaca berita aktual juga membaca buku-buku tebal. Dua hobi yang saling melengkapi dalam hidupnya. 

Disertasi

Pada sinopsis yang didapatkan para hadirin yang mengikuti ujian promosi, ayah tiga putri ini menuliskan tentang wacana radikalisme. Gerakan dan pemikiran radikalisme satu dekade terakhir memang begitu marak seiring situasi sosial, politik dan ekonomi di negeri ini. Putra kelahiran Sarolangun Jambi, 16 April 1977 ini berhasil menggali kecenderungan media cetak dalam menurunkan artikel-artikel populer wacana radikalisme. Ia menemukan hasil betapa sedikitnya cendekiawan muslim yang aktif menulis di media cetak. 

Menurut pengakuan Si Dul, hampir satu tahun fokus menulis naskah 300 halaman yang dia ketengahkan dalam ujian doktornya. Bagitu banyak waktu yang menyita untuk kajiannya ini, agar bisa lolos ujian demi ujian. Kesempatan beasiswa dari Ministry of Religion Affair (MORA) 2016 Kemenag RI tidak ia sia-siakan. Menyelesaikan program doktor selama 3 tahun dengan hasil cum laude. 

“Ini gelar atas capaian banyak orang. Memang saya menjalaninya, tetapi begitu banyak orang yang terlibat. Mendorong dan membantu baik materil maupun imateril. Mulai dari keluarga, kolega, yang saya sudah menganggapnya guru, bapak, abang, adik, dan seterusnya. Saya mengucapkan terima kasih yang banyak untuk semua itu. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan ini,” ujarnya penuh haru selepas acara ujian doktor yang juga dihadiri Mafri Amir, sesama mantan reporter Boby Lukman Piliang dan Vinna Melwanti. Selamat pak doktor, tabik! (*)  

Editor : Elsy Maisany
Sumber Berita : Wiztian Yoetri - Wartawan Senior